Nama Daerah Dalam Identitas Suku
Dalam khazanah persukuan di Minangkabau, dikenal sejumlah suku induk
seperti Koto, Piliang, Bodi, Caniago, Tanjung, Sikumbang, Bendang,
Malayu, Kampai, Mandahiliang, Guci, Panai, Jambak, Pitopang, Panyalai,
Dalimo dan Payobada. Selain itu ada puluhan suku lainnya hasil pemekaran
dari suku-suku induk di atas. Setiap suku merepresentasikan klan masing-masing yang menjadi cikal-bakal masyarakat Minangkabau yang ada sekarang ini.
Dari sekian banyak suku induk dan suku
turunan, ada beberapa suku yang ditengarai menggunakan nama daerah
asalnya sebagai nama suku. Dan pola menamakan suku sesuai daerah asal
yang mirip dengan konsep marga di wilayah Tapanuli ini ternyata berulang
pada beberapa daerah rantau. Berikut sekilas nama-nama suku dan
kemungkinan daerah asalnya:
Suku Suku Induk di Minangkabau
- Suku Malayu, diperkirakan berasal dari wilayah ex Kerajaan Malayu Tua dan Dharmasraya yang pernah eksis di hulu Sungai Kampar dan Batanghari.
- Suku Mandahiliang, diperkirakan datang dari kawasan Mandailing di Tapanuli Selatan dan kemudian menyatu kedalam masyarakat Minangkabau
- Suku Tanjuang, diperkirakan berasal dari Barus dan wilayah pesisir barat Tapanuli Tengah. Barus adalah sebuah kota perdagangan kuno yang telah banyak penduduknya sejak abad sebelum masehi. Wilayah ini juga merupakan tempat asal Marga Tanjung yang kita kenal.
- Suku Panai, diperkirakan berasal dari Kerajaan Pannai di Sumatera Timur. Kerajaan ini ikut diserang oleh Rajendra Chola dalam penaklukkan Sriwijaya tahun 1025 M. Kemungkinan ada sebagian penduduk yang mengungsi ke wilayah Minangkabau sekarang. Saat ini suku ini banyak terdapat di daerah Solok Selatan.
- Suku Kampai, diperkirakan berasal dari wilayah Kampar. Suku ini berkerabat dengan Suku Panai, Suku Malayu, Suku Mandahiliang dan beberapa suku lainnya.
- Suku Pisang, diperkirakan berasal dari daerah Pisang di Kuala Inderagiri
- Suku Jambak, yang menurut hikayatnya berasal dari Negeri Champa. Penduduk Champa banyak yang bermigrasi akibat serangan-serangan dari negara tetangganya.
Suku Suku Turunan di Negeri Batubara, Sumatera Timur
Batubara adalah salah satu kawasan yang
didiami oleh keturunan Minangkabau sejak tahun 1717 M, namun wilayah ini
tidak disebutkan sebagai rantau seperti Negeri Sembilan di Semenanjung
Malaya. Hal ini sama seperti kawasan Pesisir Barat Aceh dimana keturunan
Minangkabau disebut sebagai Suku Aneuk Jamee, dan kawasan Pesisir Barat Tapanuli (Sibolga dan sekitarnya).
Pemerintahan Suku sempat eksis di Negeri Batubara sebelum diintervensi oleh Kesultanan Asahan. Read the rest of this entry »
Jika kita mendengar istilah Koto-Piliang dan Bodi-Caniago di Minangkabau, maka ada 2 makna yang sekaligus dikandungnya, yaitu:
- Nama Suku yaitu Suku Koto, Suku Piliang, Suku Bodi dan Suku Caniago
- Nama Kelarasan yaitu Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago
Sebagian orang luar Minang akan sedikit bingung tentang perbedaan dan korelasi kedua konteks dan makna ini.
- Sebagai suku, keempat suku di atas adalah representasi klan di Minangkabau yang diwariskan secara matrilineal. Suku akan punah jika tidak ada lagi keturunan perempuan dari suku tersebut. Suku pula yang menjadi salah satu syarat pembentukan nagari. Dalam adat disebutkan:
Nagari bakaampek sukuDalam suku babuah paruikKampuang bamamak ba nan tuoRumah dibari batungganai
- Sebagai kelarasan, keempat suku ini mengelompok menjadi dua kelarasan yaitu Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Caniago. Posisi keempat suku dalam kelarasannya masing-masing adalah sebagai payung kelarasan.
Aliansi Suku-suku Dalam Kelarasan
Suku-suku diluar suku yang empat diatas akan mengelompok kedalam aliansi masing-masing kelarasan ini.
Di bawah Payung Kelarasan Koto-Piliang terdapat suku-suku:
- Suku Malayu
- Suku Tanjung
- Suku Sikumbang
- Suku Bendang
- Suku Guci
- Suku Kampai
- Suku Panai
Selain tujuh suku diatas berbagai
suku-suku baru hasil pemekaran Koto dan Piliang secara tradisional
adalah anggota Kelarasan Koto Piliang. Begitu pula halnya dengan
suku-suku hasil pemekaran ketujuh suku lainnya.
Di bawah Payung Kelarasan Bodi-Caniago terdapat suku-suku: Read the rest of this entry »
I. Pendahuluan
Kebijakan “kembali ke nagari” sebagai
strategi pelaksanaan otonomi daerah di Sumatera Barat mengundang
pembicaraan hangat publik. Tidak saja pasalnya disebut-sebut
implementasinya setengah hati, bahkan disebut sebagai “lebih
parah”, paradoksal dan dehumanisasi. Parodoksal, teramati, dulu ketika
pemerintahan desa melaksanakan UU 5/1979 dan Perda Sumar No.13/ 1983,
nagari tidak pecah dan kelembagaan adat esksis, sekarang di era otonomi
daerah melaksanakan UU 22/ 1999 diganti dengan UU 32/ 2004 plus UU
08/2005 dan Perda 09/2000 direvisi Perda 02/2007, justru nagari lama
menjadi pecah dan dibagi dalam beberapa nagari disebut dengan istilah
pemekaran. Dehumanisasi, teramati, niat pemekaran nagari hendak
memudahkan urusan dan pelayanan warga, justru menghadang bahaya besar,
ibarat meninggalkan bom waktu untuk anak cucu di nagari dan bisa meledak
5-10 tahun yang akan datang.
Kembali ke nagari dan terjadi pemekaran
nagari bagaimanapun ini sebuah kebijakan. Permasalahanya bukan pada
kebijakan saja, tetapi meliputi sistim kebijakan itu yakni: kebijakan
itu sendiri, lingkungan kebijakan dan pelaku kebijakan. Dapat
digarisbawahi pandangan Dunn (2001:67) masalah kebijakan bukan saja
eksis dalam fakta di balik kasus tetapi banyak terletak pada para pihak/
pelaku (stakeholder) kebijakan. Artinya pelaku kebijakan sering menjadi
persoalan. Tak kecuali dalam pelaksanaan kembali ke nagari yang
kemudian tak dapat dihindari tuntutan memecah nagari yang disebut
pemekaran itu. Read the rest of this entry »
Setelah sebelumnya menemukan kemiripan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran kuno Gandhara dan ukiran Yunani kuno, saya melanjutkan penelusuran ke Negeri Champa. Dan persis seperti dugaan saya, dari peninggalan-peninggalan sejarah Bangsa Champa
saya lagi-lagi menemukan keterkaitan dengan Minangkabau yaitu dalam
bentuk kemiripan ukiran yang dipahat di dinding candi-candi di Champa
terutama di komplek percandian My Son, dengan ukiran yang bisa kita temukan di dinding Rumah Gadang.
Cara mereka mengukir pun sama dengan yang dilakukan seniman ukir
Minangkabau, yaitu dengan memotong ukiran-ukiran tersebut dalam bentuk
batu bata yang terpisah untuk kemudian disatukan. Persis seperti
sambungan papan-papan ukiran di Rumah Gadang. Uniknya lagi,
ukiran-ukiran atau pahatan-pahatan yang ditemukan pada peninggalan
Bangsa Champa ini juga merupakan bentuk turunan dari ukiran Yunani Kuno
dan Gandhara. Dari sini kita bisa melihat perjalanan sejarah ukiran tersebut, mulai dari Yunani kemudian ke Gandhara, berlanjut ke Negeri Champa dan pada akhirnya ditemukan di Minangkabau, di pedalaman Sumatera.
Jadi sampai saat ini saya sudah menginventarisir 4 keterkaitan antara Negeri Champa dengan Minangkabau, yaitu:
- Sistem Konfederasi Kota yang mirip dengan Nagari di Minangkabau atau Mini Republik di Yunani Kuno dan Gandhara.
- Sistem Matrilineal yang masih diamalkan oleh masyarakat Minangkabau sampai saat ini.
- Simbol Harimau Campa yang juga menjadi simbol budaya pada masyarakat Champa
- Motif Ukiran dan Pahatan yang mirip dengan Ukiran Minangkabau.
Belum termasuk soal Hikayat Suku Jambak yang memang belum jelas sumbernya dan kesamaan nama Kerajaan Inderapura dengan nama ibukota Champa di puncak kejayaannya.
Motif Kuciang Lalok jo Saik Galamai
Jika kita membuang unsur siku-siku saik
galamai dalam motif ukiran di bawah, maka akan ditemukan kemiripan unsur
dengan pahatan pada candi myson yang ada di Champa. Unsur bunga segi
empat ini disebut bungo cino dalam ukiran Minangkabau.
Ukia ragam kuciang lalokSalo manyalo saik galamaiLatak di pucuak dindiang hariDisingok di ujuang paranParannyo ulua mangulampaiAsanyo di Gudam Balai janggoDi dalam Koto PagaruyuangUkiran Rajo Tigo Selo
Banyak yang menilai kurangnya bukti
sejarah dalam bentuk prasasti dan naskah, khususnya yang dibuat sebelum
abad ke-19 adalah sebuah permasalahan serius dalam menelusuri sejarah
Minangkabau. Namun beberapa bait pantun di bawah ini mungkin bisa
menjadi anak kunci yang akan membuka kotak pandora yang bernama
Minangkabau tersebut.
Baburu babi ka batu balangMandapek buluah jo rotanGuru mati kitab lah hilangSasek ka sia ditanyokanNan sakapa alah diambiak urangNan sapinjik tingga diawakWalau dibalun sabalun kukuJikok dikambang saleba alamWalau sagadang bijo labuBumi jo langik ado didalamSabarih bapantang lupoSatitiak bapantang hilangSungguahpun habih coreang di batuDi limbago talukih juoLatiak-latiak tabang ka pinangSinggah manyasok bungo rayoAia satitiak dalam pinangSinan bamain ikan rayo
Warisan Budaya Tak Benda
Dan memang pada kenyataannya, para
pemangku dan ahli-ahli adat di Minangkabau tidak merisaukan ketiadaan
prasasti dan naskah-naskah ini. Naskah-naskah hanya populer di kalangan
agama, tersebar pada surau-surau di pelosok Alam Minangkabau. Kalangan adat sendiri baru mulai akrab dengan naskah dan penulisan pasca masuknya Belanda ke Minangkabau semasa Perang Paderi.
Sedikit demi sedikit tambo, pantun dan mamangan adat mulai disalin
dalam aksara Arab Melayu, dimana sebelumnya hanya diwariskan dalam
tradisi lisan.Tambo Alam Minangkabau yang
ditulis oleh Datuak Sangguno Diradjo merupakan salah satu tonggak
sejarah dimulainya era tulisan untuk hal-hal yang selama ini menjadi warisan budaya tak benda masyarakat Minangkabau.
Seperti yang tersirat dalam bait-bait
pantun di atas. Para penyusun Adat Minangkabau sepertinya memang dengan
sengaja mewariskan sejarah, aturan adat, filosofi dan budaya dalam
bentuk warisan tak benda. Mayoritas ditransfer dalam bentuk
pantun-pantun adat yang sarat dengan kiasan dan simbol dimana untuk
benar-benar memahaminya butuh waktu dan perenungan dan juga butuh guru
dan latihan.
Selain warisan tak benda yang berupa
pantun-pantun yang menyimpan esensi dan kristalisasi adat Minangkabau,
ada juga hal yang kasat mata namun tetap menyimpan simbol-simbol yang
bagaikan tulisan hieroglyph di dinding piramida. Diantaranya adalah Ukiran Minangkabau dan Carano.
Dalam rangkaian tulisan yang ditulis oleh Emral Djamal Dt. Rajo Mudo, diterangkan bahwa dalam Carano itu tersimpan esensi adat Minangkabau. Ternyata isi carano, seperti sirih pinang, dan lainnya itu mengandung makna simbolik yang harus dipahami secara tasurek, tasirek, tasuruak dalam pengertian mandata, mandaki, manurun, dan malereang. Read the rest of this entry »
Asal Muasal Suku Menurut Tambo
Menurut pendapat yang paling umum dan bersumberkan kepada Tambo, pada awalnya di Minangkabau hanya ada empat suku saja
yaitu Koto, Piliang, Bodi dan Caniago. Keempat suku mengelompok menjadi
dua kelarasan yaitu Lareh Koto Piliang yang dipimpin Datuak
Katumanggungan dan Lareh Bodi Caniago yang dipimpin oleh Datuak
Perpatiah Nan Sabatang. Selanjutnya suku-suku asal ini membelah berulang
kali hingga mencapai jumlah ratusan suku yang ada sekarang ini. Dapat
ditebak, suku yang empat ini adalah penghuni kawasan lereng Gunung
Marapi atau Nagari Pariangan. Konsep ini sesuai dengan tujuan penulisan
tambo yaitu untuk menyatukan pandangan orang Minang tentang asal-usulnya.
Namun informasi dari tambo ini tidak menyebutkan:
- Darimana asal usul suku yang empat ini
- Darimana asal usul 4 suku lain yang ada di Nagari Pariangan (Pisang, Malayu, Dalimo Panjang dan Dalimo Singkek)
- Jika Nagari Pariangan adalah nagari pertama, mengapa tidak ada Suku Bodi dan Suku Caniago di dalamnya. Apakah suku yang berdua ini datang belakangan? Tentu ini akan menabrak konsepsi awal bahwa Bodi dan Caniago termasuk empat suku pertama.
- Asal muasal suku besar lain seperti Jambak, Tanjuang, Sikumbang dan Mandahiliang. Karena mereka bukanlah pecahan dari Koto, Piliang, Bodi atau Caniago.
- Suku-suku apa saja yang menjadi warga nagari-nagari yang menganut Lareh Nan Panjang.
Sebuah sumber memiliki pendapat yang berbeda dari keterangan di atas. Menurut Buku Sejarah Kebudayaan Minangkabau, suku asal Minangkabau adalah Suku Malayu, yang terpecah menjadi 4 kelompok dan masing-masingnya mengalami pemekaran, yaitu:
- Malayu IV Paruik (Malayu, Kampai, Bendang, Salayan)
- Malayu V Kampuang (Kutianyia, Pitopang, Jambak, Salo, Banuampu)
- Malayu VI Niniak (Bodi, Caniago, Sumpadang, Mandailiang, Sungai Napa dan Sumagek)
- Malayu IX Induak (Koto, Piliang, Guci, Payobada, Tanjung, Sikumbang, Simabua, Sipisang, Pagacancang)
Suku Malayu juga ditemukan sebagai suku para raja yang berkuasa di Pagaruyung, Ampek Angkek, Alam Surambi Sungai Pagu, Air Bangis dan Inderapura.
Suku Sebagai Representasi Klan Pendatang
Pada hakikatnya suku pada masa awal
terbentuknya adalah representasi dari klan-klan yang membentuk
masyarakat Minangkabau. Sebagaimana yang kita ketahui, Minangkabau pada
masa awal pembentukan masyarakatnya adalah wilayah yang terbuka untuk
didiami pelbagai bangsa sebagai konsekuensi letaknya yang dekat dengan
jalur perdagangan internasional. Pantai Barat Sumatera (Barus), Selat
Malaka dan daerah aliran sungai-sungai besar seperti Rokan, Siak,
Kampar, Inderagiri dan Batanghari adalah pintu masuk utama berbagai
bangsa pendatang sejak zaman megalitikum sampai periode berkembangnya
kerajaan-kerajaan di Pesisir Timur Sumatera. Kaum pendatang ini segera
menghuni kawasan Luhak Nan Tigo yang dalam Tambo disebut sebagai wilayah
inti Minangkabau.
Persebaran Kaum Non-Pariangan di Luhak Nan Tigo
Meskipun tambo-tambo yang beredar dalam
berbagai versi itu sepakat bahwa daerah pertama yang dihuni nenek moyang
orang Minangkabau adalah Nagari Pariangan yang terletak di lereng
sebelah selatan Gunung Marapi,
namun ada informasi yang luput dari “teorema penyatuan silsilah” yaitu
soal penduduk yang telah terlebih dahulu menghuni Luhak Agam dan Luhak
Limopuluah Koto. Read the rest of this entry »
Benarkah Kerajaan Pagaruyung adalah
pewaris dari Kerajaan Malayapura? Benarkah Kerajaan Malayapura
berintegrasi dengan sistem aristokrasi Koto Piliang dalam lembaga Rajo
Tigo Selo?
Sepeninggal Adityawarman yang wafat pada
1375, belum ditemukan bukti yang memadai untuk mengetahui siapa
pengganti dari Adityawarman. Terdapat ”bagian yang hilang“ dalam
penulisan sejarah Kerajaan Pagaruyung. Bagian tersebut berada di antara
masa pemerintahan Adityawarman (1347-1376) dan masa pemerintahan Sultan
Alif Khalifatullah (Sultan pertama yang memeluk agama Islam) yang naik
tahta sekitar tahun 1560 M. Sedikit informasi yang berhasil ditemukan,
menyatakan bahwa ada kemungkinan pengganti Adityawarman adalah
Ananggawarman yang merupakan putera dari Adityawarman (M.D. Mansoer
et.al., 1970:64-65). Nama ini muncul dan dipahat dalam Prasasti Saruaso
II. Ananggawarman inilah yang ditahbiskan pada 1376 untuk menduduki
posisi raja menggantikan ayahnya, Adityawarman yang telah meninggal
(M.D. Mansoer et.al., 1970:64-65).
Namun tiba-tiba muncul pengkaitan ini
dalam Tambo Pagaruyung yang diterbitkan tahun 1970. Tambo ini memuat
silsilah sebagai berikut:
- Raja Adityawarman
- Raja Ananggawarman
- Raja Vijayawarman
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Bakilap Alam Sultan Alif 1 Yamtuan Raja Bagewang
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Siput Aladin
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Ahmad Syah Yamtuan Raja Barandangan
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Alif ll Yamtuan Khalif
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Bagagar Alamsyah Yamtuan Raja Lembang Alam.
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah l Yamtuan Raja Bawang.
- Daulat Yang DiPertuan Malenggang Alam Yamtuan Rajo Naro.
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Alam Muningsyah ll Yang DiPertuan Sultan Abdul Fatah Yamtuan Sultan Abdul Jalil l.
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah Yamtuan Hitam.
- Daulat Yang DiPertuan Sultan Abdul Jalil ll Yang DiPertuan Garang Yang DiPertuan Sultan Abdul Jalil.
- Daulat Yang DiPertuan Puti Reno Sumpu Yang DiPertuan Berbulu Lidah.
Limbago Rajo Nan Tigo Selo, Basa
Ampek Balai dan Langgam Nan Tujuah adalah warisan dari Lareh Koto
Piliang, ciptaan Datuak Katumanggungan. Sedangkan Malayapura yang
didirikan Adityawarman adalah penerus dari Dharmasraya yang sama sekali
tidak terkait dengan sistem aristokrasi Koto Piliang. Read the rest of this entry »
Urang Campa adalah
sebutan bagi komunitas Campa dalam bahasa mereka sendiri. Sedangkan di
Malaysia mereka disebut sebagai Melayu Champa. Pada awalnya mereka
adalah penganut Hindu Shiwa dan kemudian beralih ke Islam sejak abad ke
13, sezaman dengan perkembangan Islam di Nusantara. Asal muasal orang
Champa menurut penelitian adalah masyarakat Melayu-Polinesia yang mendiami Kepulauan Nusantara pada abad sebelum Masehi.
Sepanjang sejarahnya yang selama 1.5
Millennium (192 M – 1832 M), bangsa ini telah menempuh kejayaan dan
kehancuran. Dan sekarang bisa dikatakan punah, karena sudah tidak
memiliki tanah air lagi dan anak cucunya yang sekira 500,000 an orang
tersebar di delapan negara (Kamboja, Vietnam, Malaysia, Indonesia, USA,
Thailand, Laos dan Perancis).
Kaitan Dengan Minangkabau
- Tokoh Harimau Campa dalam Tambo Alam Minangkabau
- Tempat asal leluhur Suku Jambak
- Kerajaan Inderapura yang bernama sama dengan Kota Inderapura di Champa
- Sistem Matrilineal yang diamalkan.
Dari Awal Sampai Puncak Kejayaan
Catatan sejarah Cina mencatat kemunculan
Kerajaan Champa pada tahun 192 M, yang pada saat itu mereka sebut
sebagai Lin Yi. Sejatinya Champa adalah sebentuk Konfederasi Kota yang terdiri dari:
- Inderapura (ibukota Champa dari 875 M -1000 M)
- Amaravati
- Vijaya (ibukota Champa dari 1000 M – 1471 M)
- Kauthara, dan
- Panduranga
Beberapa ahli sejarah berpendapat,
kebudayaan Champa setidaknya dipengaruhi oleh unsur-unsur Cina, India,
Khmer dan Jawa. Pada masa pra 1471 M, Hindu Shiwa adalah agama resmi
negara, dan Sansekerta adalah tulisan resmi yang diwujudkan dalam
prasasti-prasasti dan maklumat negara. Walaupun beraksara Sansekerta,
bahasa yang digunakan tidak melulu Sansekerta, karena banyak ditemukan
prasasti dengan dua bahasa, yaitu Sansekerta dan Champa. Agama Buddha
Mahayana pernah juga menjadi agama resmi negara pada masa pemerintahan
Raja Indrawarman II pada tahun 875 M. Saat itu ibukota berada di
Inderapura.
Bangsa Champa adalah bangsa pedagang yang
pada masa kejayaannya menguasai jalur perdagangan sutera dan
rempah-rempah antara Cina, Nusantara, India dan Persia. Umumnya mereka
adalah pedagang perantara.
Bangsa Khmer secara tradisional adalah
pesaing Bangsa Champa, walaupun demikian kedua kerajaan ternyata saling
mempengaruhi dan keluarga bangsawannya sering pula kawin mawin. Champa
juga menjalin hubungan yang cukup dekat dengan dinasti raja-raja yang
berkuasa di Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit. Dalam salah satu
keterangan disebut Kertanegara, Raja Majapahit memperistri Putri Champa.
Bangsa Champa juga tersebar sampai ke
Acheh dan Minangkabau. Bahkan bahasa Champa mempengaruhi Bahasa Aceh
yang dituturkan di Pesisir Utara dan Pesisir Timur Aceh. Bangsa Champa
juga merupakan bangsa yang menganut adat matrilineal, sama seperti yang diamalkan orang Minangkabau saat ini. Read the rest of this entry »
Harimau Campa Dalam Tambo
Harimau Campa adalah nama seorang tokoh yang disebut-sebut di dalam Tambo Alam Minangkabau.
Bersama-sama Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim, mereka
berempat adalah para pengiring Ninik Sri Maharaja Diraja dan rombongan.
Mereka semua adalah para pendekar yang di kemudian hari menjadi
orang-orang pertama pendiri cikal bakal Silek Minang. Mereka juga
dipercaya sebagai leluhur orang-orang di Luhak Nan Tigo.
Harimau Campa menjadi leluhur orang Luhak
Agam, Kucing Siam menjadi leluhur orang Canduang Lasi Tuo, Kambing
Hutan menjadi leluhur orang luhak Limopuluah sedangkan Anjing Mualim
berkelana di sepanjang Bukit Barisan. Luhak Tanah Datar sendiri dipenuhi
oleh anak keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja. Setidaknya begitulah
menurut Tambo Alam Minangkabau. Soal keturunan ini kemudian diabadikan
dalam warna bendera Luhak Nan Tigo yang kemudian kita kenal sebagai
marawa.
Kalau kita perhatikan nama-nama tokoh
diatas, ada hal menarik yang tersirat darinya, khususnya Harimau Campa.
Bernama Harimau Campa, tentulah berasal dari Negeri Champa. Logikanya tentu negeri ini telah ada dan masyhur sebelum nenek moyang orang Minangkabau mendarat di Sumatera.
Sekilas Negeri Champa
Dari catatan sejarah Cina, Kerajaan
Champa berdiri pada tahun 192 M yang pada masa itu disebut Lin Yi. Pada
tahun 543 Champa menyerang Dai Viet (Bangsa Vietnam) di Utara, namun
gagal. Kerajaan Champa mencapai puncak kegemilangannya pada abad ketujuh
hingga abad kesepuluh Masehi, untuk kemudian menurun karena perpecahan
dalam negeri dan serangan-serangan yang agresif dari Bangsa Khmer, Bangsa Vietnam dan Bangsa Cina.
Jika saja Harimau Campa dalam tambo ini
hidup pada masa awal kejayaan Kerajaan Champa tentulah kita bisa
berasumsi bahwa kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah
setelah tahun 192 M, atau diperkirakan sekitar tahun 400-500 M.
Kucing Siam Dalam Tambo
Namun ada hal yang mengganggu jika logika
yang sama diterapkan pada tokoh Kucing Siam yang berasal dari Siam.
Istilah Siam sendiri baru populer setelah berdirinya Kerajaan Sukhothai (1238 M) dan Kerajaan Ayutthaya (1351 M) sebagai cikal bakal Kerajaan Siam. Episode sejarah ini tentu paralel dengan periode Dharmasraya dan Malayapura
di Sumatera. Pada saat ini tentu Champa sudah mulai menurun pengaruhnya
walaupun masih bisa disebut jaya, karena pada tahun 1471 M, Bangsa
Vietnam memulai invasinya
terhadap Champa. Jadi kalau ditarik sebuah kompromi maka tahun
kedatangan nenek moyang orang Minangkabau haruslah setelah 1238 M.
Kecuali kita menemukan data bahwa istilah Siam sudah populer pada abad
ketujuh Masehi, pada saat awal kejayaan Kerajaan Champa.
Tafsiran Lain Mengenai Harimau Campa
Akan tetapi sesuai hakikat Tambo, bahwa tujuan penulisannya adalah untuk menyatukan pandangan orang Minangkabau
mengenai sejarah dan asal-usul mereka, maka bisa saja pengarang Tambo
memasukkan nama kedua tokoh ini (dan tokoh-tokoh lain) untuk mewakili
kelompok-kelompok masyarakat yang membentuk Minangkabau yang terdiri
dari bermacam-macam daerah asal. Dari Hikayat Suku Jambak
kita juga menemukan cerita ini, dimana Suku Jambak mengaku sebagai suku
yang datang kemudian, seketurunan dengan Suku Sikumbang. Read the rest of this entry »
Migrasi nenek moyang orang Minangkabau
menurut Tambo masih meninggalkan sebuah pertanyaan besar sampai saat
ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir di puncak Gunung Marapi. Meski
secara logika tidak dapat diterima namun banyak juga yang tertarik untuk
mengetahui alasan dipilihnya cerita ini oleh pengarang tambo pertama
kali sebagai konstitusi untuk menyatukan pandangan keturunannya mengenai sejarah dan asal-usul mereka.
Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi
Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti
apakah gerangan keadaan Pulau Sumatera pada saat nenek moyang orang
Minangkabau yang diceritakan di dalam tambo itu menapaki pulau ini untuk
pertama kalinya. Yang pasti tidak akan banyak berubah seperti kondisi
sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi dalam penelitian tentang
Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang pada dahulunya itu
terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan Muara Tebo di
Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan kesembilan
Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur
Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar
seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara
sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara
sungai yang sama.
Namun satu hal yang pasti, tidak akan
mungkin gunung-gunung api dan kawasan bukit barisan bertemu dengan
lautan, kecuali kaki-kaki bukit barisan di selatan Kota Padang dan
seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan pada zaman es pun yang terjadi
adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini justru lebih rendah
permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga Sumatera, Malaya, Jawa
dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan Sahul. Bahkan pulau-pulau
perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan Nias pun menyatu dengan
Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara sejarah geologi, cerita
dalam tambo ini tertolak.
Namun bagaimana menjelaskan soal lautan
ini? Di luar soal pendaratan kapal di puncak Gunung Marapi, masih ada
beberapa soal yang menentang kondisi geografis ini, di antaranya:
- Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan Tigo
- Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran tinggi Luhak Nan Tigo
- Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam beberapa versi Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Alam Kerinci. Selain itu Tombo Lubuk Jambi juga memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun.
Berlayar di Daratan Menurut Tambo
Berikut beberapa kutipan tambo:
Setelah bulat mupakat, mendakilah
ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana
tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu.
Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala
arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan. Kelihatan
oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh
gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong
itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu
itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri
Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran
beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai
ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.(Tambo Alam Minangkabau)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar